Senin, 22 Desember 2008

Jagat Sastra Jawa


PERKEMBANGAN SASTRA JAWA MODERN (Upaya Menghindari Aversitas)


Istilah sastra Jawa modern lebih memasyarakat atau sebagai cermin masyarakat hendaknya mebih berhati-hati dalam pemakaian. Sastra yang ditulis terlalu progresif sering tidak mendapat tempat di media massa. Sebaliknya, sastra yang "mineur" terus-menerus dapat membosankan dan akibatnya afinitas dapat berubah menjadi aversi.
Sastra Jawa modern yang bersifat serius karena ditulis dengan visi yang sungguh-sungguh dapat memperlihatkan bobot intelektual penulisnya. Oleh karena itu sastra Jawa modern yang serius memiliki tanda-tanda memperlihatkan bobot intelektual penulisnya, menawarkan masalah yang bersifat eksperimental, menawarkan objek yang terpadu sesuai dengan polarisasi sosial yang menekankan pada makna pesan dan mampu mewujudkan bahasa yang puitik.

PERANAN SASTRA JAWA TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA JAWA

Pembinaan dan pengembangan bahasa Jawa telah dilakukan sejak zaman sebelum Indonesia merdeka dan tetap berlangsung hingga sekarang. Hal ini dilakukan baik melalui jalur formal maupun informal.
Pada awal kemerdekaan dan pada paruh pertama tahun lima puluhan, pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Jawa secara formal tampak pada terbitnya buku-buku semacam Wulang Basa, Racikan Basa, Sinau Basa, dan sebagainya. Di bidang pembinaan dan pengembangan sastra, khususnya sastra Jawa modern, persuratkabaran Jawa sangat mendukung. Dalam majalah Bahasa Jawa termuat cerita bersambung, cerita pendek, puisi Jawa modern dan bahkan kritik dan esei sastra Jawa. Di samping itu, untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan sastra Jawa modern sering diselenggarakan sayembara mengarang sastra Jawa, baik berupa cerita bersambung, cerita pendek, maupun puisi Jawa modern. Hasilnya dimuat dalam majalah yang bersangkutan.
Di samping menyelenggarakan sayembara, majalah bahasa Jawa juga menyelenggarakan hadiah tahunan sastra Jawa. Agar sastra Jawa mempunyai pengaruh terhadap perkembangan bahasa Jawa, orang Jawa sendiri harus aktif mengembangkannya.

INOVASI TEMBANG JAWA

Tembang Jawa semula berfungsi sebagai sarana puji-pujian kepada roh nenek moyang dalam upacara keagamaan. Setelah melalui tahap-tahap dalam setiap kurun waktu mengalami perubahan fungsi. Dengan melewati beberapa periode Tembang Jawa menurut kondisinya terpisah menjadi dua model. Yang model I berupa tembang dengan syair bebas menjelma menjadi lagu (gending) dolanan.
Model ke II berupa tembang bersyair terikat menjelma menjadi 3 jenis tembang, yaitu Tembang Gedhe, Tembang Tengahan, Tembang Macapat. Ke-3 tembang bersyair terikat tersebut yang paling digemari masyarakat adalah tembang Macapat. Hal ini disebabkan oleh kemudahan-kemudahan ikatan Macapat. Khususnya kalimat dalam syair, oleh masyarakat kemudahan itu terlihat dalam cipta-karyanya, di mana setiap pelakunya hampir semua bisa melakukannya.
Kini mengalami kemerosotannya. Seolah-olah baru ditinggalkan oleh bapa-ibunya, karena sedang membangun negara demi kebahagiaan bersama termasuk untuk si dia ke-3 jenis tembang itu sendiri. Selama ditinggalkan, ia tetap mempertahankan identitas dengan inovasi-inovasinya.
Dalam menginovasi, iapun selalu bersandar kepada era-era yang ada, khususnya dengan Bahasa Jawa yang sedang berlaku pada saat itu ia lakukan. Akhirnya dengan kondisi yang ada timbul kesadaran, bahwa bagaimanapun ua tidak boleh kecil hati, bahkan harus ikut ambil bagian dalam pembangunan rumah (negara)-nya.

PERAN SASTRA JAWA DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Sastra Jawa merupakan sarana pembentuk keindahan dan sarana pendidikan watak dan moral melalui daya sentuhnya yang halus dan kuat terhadap jiwa manusia. Karya sastra Jawa yang mengandung unsur didaktis biasanya secara eksplisit dinyatakan sebagai sastra wulang, ethics, moral. Sastra wulang meliputi tuntunan dalam bidang pemerintahan, agama, dan budi pekerti.
Ajaran-ajaran tersebut ada yang dijalin dalam cerita dan ada pula yang yang dijalin dalam sastra noncerita. Kitab-kitab yang khusus memuat ajaran-ajaran yang tidak dijalin dalam cerita antara lain Wulangreh, Wulang Sunu, Wulang Dalem, Wedhatama, Tripama. Adapun pendidikan moral yang dijalin dalam dongeng antara lain Bayan Budiman, Serat Kancil, Dongeng Sato Kewan, Sastra Niti, misalnya berisi tuntunan bagi seorang raja; dalam Serat Tripama diajarkan teladan untuk prajurit; dalam Serat Wiro Isworo diajarkan tuntunan kepada wanita; dan dalam cerita Bayan Budiman diajarkan kesetiaan wanita kepada suaminya.

BAHASA JAWA DALAM TEMBANG DOLANAN ANAK-ANAK

Bahasa Jawa dalam tembang dolanan anak-anak adalah bahasa Jawa dalam guritan (puisi) anak-anak Jawa yang ditembangkan atau dilagukan. Bahasa Jawa dalam tembang dolanan anak-anak berupa bunyi, rima, irama, diksi, dan gaya bahasa. Bunyi mencakup aliterasi, asonansi, eufoni, dan kakofoni. Bunyi tersebut dapat menimbulkan kemerduan atau keindahan serta kepuitisan guritan anak-anak yang ditembangkan. Di samping bunyi, bahasa Jawa dalam tembang dolanan anak-anak juga berupa rima yang meliputi rima berangkai, rima berselang, rima berpeluk, rima rata, dan rima bebas. Rima tersebut mampu mendukung kepuitisan guritan. Irama atau alunan nada, tempo, dan dinamik meliputi metrum dan ritme yang sangat mendukung kemerduan tembang.
Diksi mencakup kata-kata denotatif dan konotatif yang saling berkaitan dan mendukung, sehingga dapat membentuk kalimat yang hidup dan komunikatif serta puitis. Pengarang menggunakan gaya bahasa yang berdasarkan struktur kalimat mencakup klimaks, paralelisme, antitesis, dan repetisi. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna mencakup gaya retoris (hiperbol dan paradoks), serta gaya kiasan (simile dan personifikasi). Dengan gaya bahasa tersebut, tembang dapat menjadi lebih hidup dan dinamik.
Tembang dolanan anak-anak mengungkapkan masalah permainan anak-anak yang berkaitan dengan (1)alam (flora, fauna, lingkungan), (2)raksasa, (3)tokoh sejarah, (4)dunia anak-anak, (5)keadaan lalu lintas dan alat-alat permainan. Permainan ini menghibur dan menggembirakan anak-anak serta anak-anak menjadi dinamis.

PENGEMBANGAN MODEL KAJIAN NASKAH-NASKAH JAWA

Perkembangan dan pengembangan model-model penggarapan dan pengkajian naskah-naskah Jawa telah berlangsung dari waktu ke waktu. Yang mula-mula mempelajari naskah Jawa adalah para penginjil yang dikirim oleh NBG pada awal abad ke-19, dengan tujuan untuk mengenal bahasanya, guna kepentingan penyebaran dan penerjemahan Alkitab. Selanjutnya, di antara mereka ada yang berminat untuk mengkaji naskah guna memahami isinya, kemudian menyunting untuk disebarluaskan, agar dikenal oleh kalangan yang lebih luas.
Kegiatan tersebut kemudian berkembang dari yang semula masih sebatas pada penyuntingan dalam huruf aslinya (transkripsi), kemudian penyuntingan berupa transliterasi, kemudian transliterasi disertai terjemahan, dan akhirnya lebih berkembang lagi menjadi bentuk pengkajian.
Mengenai pengembangan model kajian, oleh karena isi kandungan naskah mencakup hal yang cukup luas, bahkan dikatakan segala aspek kehidupan manusia di masa lampau telah terekam di dalamnya, maka model pengkajiannya bisa dikembangkan dalam lingkup yang lebih luas pula. Kajian naskah bisa dilakukan dari berbagai aspek, dari berbagai sudut pandang, serta oleh berbagai disiplin ilmu. Namun sebagai kajian naskah, apapun pendekatan yang digunakan, tetap tidak boleh meninggalkan prinsip dasar dan langkah kerja dalam penelitian naskah. Artinya, sebelum dilakukan pengkajian mengenai aspek-aspek atau isi kandungan naskah, naskah tersebut harus sudah diteliti secara filologis, baik mengenai pernaskahan maupun mengenai perteksannya.

MACAPATAN SEBAGAI SARANA PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN SASTRA JAWA

Dengan sejarahnya yagn panjang, pada masa kejayaannya macapat merupakan kesenian kegemaran masyarakat. Macapat adalah unsur baku dan sumber kesenian tradisional Jawa. Karawitan, wayang, kethoprak, jathilan, apalagi langen Mandrawanara amat sarat dengan macapat. Bahkan karya sastra macapat merupakan satu-satunya bentuk sastra Jawa pada masa Demak, Pajang, Mataram, Surakarta, dan Ngayogyakarta. Pujangga macapat terakhir adalah R.Ng. Ranggawarsita.
Namun dengan berubahnya zaman, dimana bahasa dan sastra Jawa hanya sebagai pendukung bahasa dan budaya nasional, keberadaan sastra macapat dengan macapatannya sekarang agak tersisih. Meskipun demikian, karena kepraktisannya (hampir tanpa biaya), kegiatan macapatan masih tetap eksis terutama di pedusunan (Jawa Tengah dan Yogya).Di Yogyakarta kini masih ada sekitar 187 grup macapatan yang didukung sekitar 3.740 seniman macapatan. Agar perkembangan macapatan tetap marak perlu ditempuh pembaharuan. Jika dulu macapatan menggunakan huruf-huruf Jawa maka kini menggunakan huruf latin. Bahkan kini ditempuh eksperimen macapatan dalam bahasa Indonesia.
Melalui macapatan pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa diharapkan tetap berjalan. Dengan demikian kegiatan macapatan mempunyai andil yang cukup besar bagi pengembangan bahasa Jawa di masa mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar